TATASURYA

Setelah anda mempelajari bahasan tentang jagat raya, mari kita lihat sekarang tatasurya. Tatasurya (Solar system) merupakan bagian kecil dari berjuta-juta bintang yang ada pada gugusan galaksi bimasakti. Tatasurya terdiri dari satu buah bintang (matahari) beserta pengikutnya berupa planet-planet, asteroid/planetoid, dan komet.
Pada bagian ini akan dibahas dari masing-masing anggota tatasurya tadi, termasuk di dalamnya akan dibahas perkembangan konsep tatasurya dan beberapa hipotesis atau teori pembentukan tatasurya.

A. Perkembangan Konsep tentang Tata surya

Dalam keseharian, bila kita amati matahari terbit di ufuk timur pada pagi hari menandakan siang hari sudah dimulai dan terbenam di ufuk barat, maka bergantilah siang hari menjadi malam hari. Pada malam gelap muncul bintang-bintang dan bulan. Semua benda langit itu (matahari, bulan, dan bintang-bintang) seakan-akan mengitari kita (bumi). Kita merasa kitalah yang menjadi pusat jagat raya. Sulit bagi kita membayangkan bahwa bumi sebenarnya bukan pusat jagat raya, melainkan merupakan salah satu satelit yang mengitari benda langit lain (matahari) yang menurut penglihatan kita justru bergerak mengitari bumi, yakni matahari. Oleh sebab itu, wajarlah kalau pada awal perkembangan ilmu astronomi, hipotesis yng banyak diterima tentng kedudukan bumi di alam semesta adalah hipotesis geosentris, yaitu bumi sebagai pusat jagat raya. Dalam perjalanan waktu, seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, kemudian diketahui bahwa bumi beserta planet-planet lain mengelilingi matahari. Dengan demikian, maka berubahlah dari konsep geosentris menjadi heliosentris, yaitu matahari sebagai pusat peredaran tatasurya. Selain itu, matahari juga bergerak melalui lintasannya dalam sistem galaksi Bimsakti.

B. Teori Pembentukan Tata Surya

Sejak jaman dahulu, orang sudah mempertanyakan bagaimana jagat raya dan tatasurya ini terbentuk. Untuk memuaskan rasa ingin tahunya, mereka membuat hipotesis atau dugaan-dugaan, baik yang bersifat mitos irasional hingga berdasarkan hipotesis ilmiah.
Kenyatan di jagat raya, bahwa planet-planet itu terletak hampir pada satu bidang datar di sekeliling matahari, melahirkan perkiraan atau hipotesis atau teori yang hampir sama tentang terjadinya tata surya kita, yaitu bahwa planet-planet itu dari ujud yang sama dengan matahari. Bidang datar tempat planet-planet yang hampir sebidang dengan ekuator matahari itu memberikan penjelasan tentang massa asal planet-planet itu telah berputar sejak benda langit itu terbentuk (Moh. Ma’mur T. dan Omi K., 1986).

1. Nebular Hypothesis
Salah satu teori yang dapat diterima para Astronomi pada zamannya ialah yang dikemukakan oleh Immanuel Kant (1755) seorang ahli filsafat Jerman yang ternyata mempunyai kesamaan dengan yang dikemukakan oleh Pierre Simon de Laplace (1796) seorang ahli astronomi Prancis. Laplace menamakan teorinya itu sebagai nebular hypothesis, karena ia sendiri tidak dapat menerangkan sejelas-jelasnya tentang teorinya itu, hanya merupakn suatu hipotesis.
Menurut Teori Kabut Kant dan Laplace (nebular berarti kabut), matahari dan planet-planet berasal dari sebuah kabut pijar yang terpilin di dalam jagat raya. Kabut seperti itu banyak terdapat di antara bintang-bintang di dalam galaksi kita.
Karena putarannya itu, sebagian dari massa kabut tersebut lepas, membentuk gelang-gelang sekeliling bagian utama gumpalan kabut itu. Lama kelamaan gelang itu membentuk gumpalan-gumpalan dan kemudian membeku menjadi planet-planet. Demikian pula bulan dan satelit-satelit planet lainnya terbentuk.
Teori ini memang mempunyai kekurangan-kekurangan, antara lain kabut yang sangat renggang itu tidak mungkin membentuk planet-planet yang padat pada ukuran yang sekarang, karena akan sangat menyusut. Lagi pula tidak mungkin kecepatan rotasi planet-planet itu seperti yang terjadi sekarang.

2. Teori Pasang Surut (Tidal Theory)
Jean dan Jeffrey (1917), keduanya orang Inggris, mengemukakan bahwa pada suatu masa dahulu kala, ke dekat matahari lewat sebuah bintang yang besar. Karena gaya tarik bintang itu, maka permukaan matahari terjadi proses pasang surut seperti pasang surut air laut di permukaan bumi akibat gaya tarik bulan. Sebagian dari massa matahari itu membentuk tonjolan ke arah massa ke arah luar, massa matahari itu membentuk seperti cerutu yang akhirnya lepas dari matahari. Massa gas yang berbentuk cerutu tadi, kemudian terputus-putus membentuk tetesan raksasa dengan ukuran berbeda-beda. Tetesan gas tadi lama kelaman membeku menjadi planet-planet. Itulah sebabnya planet-planet terletak pada satu bidang datar, bahkan pada suatu waktu nanti akan membentuk satu garis lurus lagi. Pada 1982 beberapa planet memang terletak hampir pada satu garis lurus, sehingga pada waktu itu tercetus bermacam-macam ramalan tentang peristwa alam yang mungkin terjadi, misalnya akan banyak terjadi gempa, gelombang besar dan sebagainya. Namun semua itu tidak terbukti, sekalipun memang benar beberapa planet terletak pada satu garis lurus dengan matahari.
Teori ini mempunyai kelemahan, misalnya bintang apakah yang lewat itu? Apakah bintang itu hanya lewat sekali saja? Berapa besar jarak antara bintang itu dengan matahari pada waktu berpapasan dan sebagainya. Semua itu tidak dapat dijelaskan.

3. Teori Planetesimal
Moulton seorang ahli Astronomi dan Chamberlain seorang ahli Geologi, keduanya orang Amerika, mengemukakan tentang teorinya yang dikenal dengan Teori Planetesimal (1900). Hampir sama dengan teori Kant dan Laplace, awal pembentukan planet itu adalah kabut pijar. Namun Moulton dan Chamberlain mengemukakan bahwa di dalam kabut itu terdapat material padat yang berhamburan yang dinamakan planetesimal. Benda padat inilah yang kemudian saling tarik-menarik di antara sesamanya karena gaya tariknya masing-masing sehingga lama kelaman terbentuk gumpalan yang besar yang dinamakan planet.

4. Teori Protoplanet
Pada akhir abad ke-20 muncul teori-teori yang lebih modern yang menerangkan terjadinya tatasurya kita, seperti yang dikemukakan oleh Von Weizsacker (1945), G.P. Kuiper dan sebagainya. Pada dasarnya teori modern ini mendekati teori Kabut Kant dan Laplace, bahwa di sekitar matahari itu terdapat kabut-kabut gas yang membentuk gumpalan-gumpalan padat. Gumpalan kabut gas itu dinamakan protoplanet.

C. Anggota Tatasurya
Tatasurya kita terdiri atas sebuah bintang (matahari); planet-planet, terdapat sembilan planet dan bumi merupakan salah satunya dan termasuk di dalamnya planetoid/asteroid; satelit, yaitu benda langit pengikut planet, di antaranya bulan; komet, yang dinamakan juga sebagai bintang berekor; dan anggota tatasurya lainnya adalah meteor atau tahi bintang.
Berikut ini akan dijelaskan secara singkat dari masing-masing angota tasurya tadi.

1. Matahari
Matahari adalah sebuah bintang, sama dengan bintang-bintang lainnya yng bertebaran pada malam hari yang cerah. Namun karena letaknya yang jauh lebih dekat dengan bumi, mathari tampak seperti piringan cahaya yang sangat besar, sedangkan bintang-bintang lainnya tampak seperti titik-titik cahaya saja. Padahal seperti telah kita kemukakan di atas, bahwa matahari hanyalah sebuah bintang yang berukuran sedang saja.
2. Planet-planet
3. Asteroid/Planetoid
4. Komet
5. Meteorid, Meteor, dan Meteorit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s